Suatu hari Nasrudin sedang berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ada orang yang menamparnya dari belakang. Ia terkejut dan menoleh ke belakang. Orang itu pun terkejut dan segera minta maaf. "Maaf tuan, aku kira anda teman saya" kata orang itu. Tapi Nasrudin tak terima, ia melaporkan ke pengadilan. Di pengadilan orang tersebut dimenangkan oleh hakim. Ternyata, orang tersebut adalah teman karib si hakim. Tak terima, Nasrudin pun marah pada hakim. Si hakim akhirnya menyuruh orang tersebut pulang mengambil uang ganti rugi sebesar 10 dirham. Namun, orang itu tidak kembali. Karena ternyata itu adalah tipu daya hakim, agar orang itu bisa kabur. Nasrudin berdiri dan menampar hakim, kemudian berkata : "tunggu di sini, aku akan pulang mengambil ganti rugi" Hakim tak bisa bicara apa-apa lagi. (Kisah Nasrudin Hoja)
Nasrudin pergi ke pasar dan melihat seorang penjual burung yang menjual seekor burungnya seharga 20 dirham. Nasrudir berpikir, burung sekecil itu laku dengan harga mahal. Pasti ayamnya yang lebih besar bisa laku lebih mahal. Ia pun pulang, mengambil ayamnya. Tapi ayam besarnya hanya ditawar 3 dirham saja. Nasrudin mencoba menawarkan lebih dari 5 dirham, tapi hingga sore tidak laku juga. Ia pun marah dan berteriak di pasar : "bagaimana bisa ayam ku yang lebih besar cuma ditawar 3 dirham, sementara burung kecil tadi laku 20 dirham." Seseorang menjawab : "tentu saja burung beo tadi pintar berbicara, sedang ayam mu tidak bisa apa-apa" (Kisah Nasrudin Hoja)