Langsung ke konten utama

Postingan

Tamparan ganti rugi

Suatu hari Nasrudin sedang berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ada orang yang menamparnya dari belakang. Ia terkejut dan menoleh ke belakang. Orang itu pun terkejut dan segera minta maaf. "Maaf tuan, aku kira anda teman saya" kata orang itu. Tapi Nasrudin tak terima, ia melaporkan ke pengadilan. Di pengadilan orang tersebut dimenangkan oleh hakim. Ternyata, orang tersebut adalah teman karib si hakim. Tak terima, Nasrudin pun marah pada hakim. Si hakim akhirnya menyuruh orang tersebut pulang mengambil uang ganti rugi sebesar 10 dirham. Namun, orang itu tidak kembali. Karena ternyata itu adalah tipu daya hakim, agar orang itu bisa kabur. Nasrudin berdiri dan menampar hakim, kemudian berkata : "tunggu di sini, aku akan pulang mengambil ganti rugi" Hakim tak bisa bicara apa-apa lagi. (Kisah Nasrudin Hoja)
Postingan terbaru

Ayam yang berpikir

Nasrudin pergi ke pasar dan melihat seorang penjual burung yang menjual seekor burungnya seharga 20 dirham. Nasrudir berpikir, burung sekecil itu laku dengan harga mahal. Pasti ayamnya yang lebih besar bisa laku lebih mahal. Ia pun pulang, mengambil ayamnya. Tapi ayam besarnya hanya ditawar 3 dirham saja. Nasrudin mencoba menawarkan lebih dari 5 dirham, tapi hingga sore tidak laku juga. Ia pun marah dan berteriak di pasar : "bagaimana bisa ayam ku yang lebih besar cuma ditawar 3 dirham, sementara burung kecil tadi laku 20 dirham." Seseorang menjawab : "tentu saja burung beo tadi pintar berbicara, sedang ayam mu tidak bisa apa-apa" (Kisah Nasrudin Hoja)

Menyembunyikan sepatu

Nasrudin Hoja diundang oleh tetangganya dalam acara pesta pernikahan puterinya. Satu tahun yang lalu, sepatunya hilang. Kali ini ia menyembunyikan sepatunya dibalik jubahnya. Seorang kawan bertanya padanya : "apa yang menonjol didalam jubahmu? Apakah itu sebuah buku?" Nasrudin menjawab : "benar sekali, ini buku kebijaksanaan". Nasrudin berpikir, untung saja ia dikenal sebagai kutu buku. Kawannya bertanya lagi : "dimana engkau membelinya?" Nasrudin menjawab : "di toko sepatu" (Kisah Nasrudin Hoja)

Susu dan Garam

Nasrudin dan Ali merasa haus, mereka pergi ke sebuah warung untuk minum. Karena uang mereka hanya cukup untuk membeli segelas susu maka Mereka memutuskan membagi segelas susu untuk berdua. Ali : “kamu minum dulu setengah gelas,Karena aku hanya punya gula yang hanya cukup untuk satu orang. Aku akan menuangkan gula ini ke dalam susu bagianku.” Nasrudin : “Tuangkan saja sekarang dan aku akan minum setengahnya.” Ali : “Aku tidak mau. Sudah kukatakan, gula ini hanya cukup membuat manis setengah gelas susu” akhirnya Nasrudin pergi ke pemilik warung dan kembali dengan sekantung garam. Nasrudin : “Ada berita baik. Seperti telah kita setujui, aku akan minum susu ini lebih dulu. Aku akan minum bagianku dengan garam ini.” Ali : “apa….?” Source : Hikayat 1001 Malam

Bawa semuanya

Nasruddin pernah bekerja pada seorang yang sangat kaya, tetapi seperti biasanya ia mendapatkan kesulitan dalam pekerjaannya. Pada suatu hari orang kaya itu memanggilnya, katanya, “Nashruddin kemarilah kau. Kau ini baik, tetapi lamban sekali. Kau ini tidak pernah mengerjakan satu pekerjaan selesai sekaligus. Kalau kau kusuruh beli tiga butir telur, kau tidak membelinya sekaligus. Kau pergi ke warung, kemudian kembali membawa satu telur, kemudian pergi lagi, balik lagi membawa satu telur lagi, dan seterusnya, sehingga untuk beli tiga telur kamu pergi tiga kali ke warung.” Nashruddin menjawab, “Maaf, Tuan, saya memang salah. Saya tidak akan mengerjakan hal serupa itu sekali lagi. Saya akan mengerjakan sekaligus saja nanti supaya cepat beres.” Beberapa waktu kemudian majikan Nashruddin itu jatuh sakit dan ia pun menyuruh Nashruddin pergi memanggil dokter.Tak lama kemudian Nashruddin pun kembali, ternyata ia tidak hanya membawa dokter, tetapi juga bebarapa orang lai...

Menjaga pintu

Suatu hari Nasrudin kecil ditinggal ibunya untuk pergi ke rumah Ibu RT. Sebelum pergi ibunya berkata kepada Nasrudin, “Nasrudin, kalau kamu sedang sendirian di rumah, kamu harus selalu mengawasi pintu rumah dengan penuh kewaspadaan. Jangan biarkan seorang pun yang tidak kamu kenal masuk ke dalam rumah karena bisa saja mereka itu ternyata pencuri!” Nasrudin memutuskan untuk duduk di samping pintu. Satu jam kemudian pamannya datang. “Mana ibumu?” tanya pamannya. “Oh, Ibu sedang pergi ke pasar,” jawab Nasrudin. “Keluargaku akan datang ke sini sore ini. Pergi dan katakan kepada Ibumu jangan pergi ke mana-mana sore ini!” kata pamannya. Begitu pamannya pergi Nasrudin mulai berpikir, ‘Ibu menyuruh aku untuk mengawasi pintu. Sedangkan Paman menyuruhku pergi untuk mencari Ibu dan bilang kepada Ibu kalau keluarga Paman akan datang sore ini.” Setelah bingung memikirkan jalan keluarnya, Nasrudin akhirnya membuat satu keputusan. Dia me...

Sorban usang

Nasrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Tidak lama kemudian, Nasrudin tampak menyusun maklumat yang menawarkan setengah keping uang perak bagi yang menemukan dan mengembalikan sorbannya. Seseorang protes, "Tapi penemunya tentu tidak akan mengembalikan sorbanmu. Hadiahnya tidak sebanding dengan harga sorban itu." "Nah," kata Nasrudin, "Kalau begitu aku tambahkan bahwa sorban itu sudah tua, kotor, dan sobek-sobek." (Hikayat 1001 Malam)